Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Tanya Jawab

Hadits puasa Syawal dhoif bahkan bid’ah bagi yg melakukannya, benarkah?#09

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,

Terdapat beberapa broadcast yang menyatakan dhaifnya hadits puasa Syawal, padahal yang lebih kuat adalah shahih bukan dhaif.

Asy- Syaikh al Muhaddits Yasir alu Ied  telah mengkaji hadits-hadits puasa Syawal, berikut ringkasannya;

  1. Hadits Abu Ayyub,

 

مَنْ صامَ رمضانَ . ثُمَّ أَتْبَعَهُ ستًّا مِنْ شوَّالٍ . كانَ كصيامِ الدَّهْر

“Siapa puasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan 6 puasa Syawal, maka ia seperti puasa setahun penuh.”

Hadits Abu Ayyub ini dishahihkan oleh;

– Muslim, no. 1164

– at Tirmidzi, no.759

– Abu Awanah, no. 2696

– Ibnu Khuzaimah

– Ibnu Hibban, 8/396

– al Baihaqi, 3/349

 

Dikeluarkan pula;

– Abu Dawud, 2/324

– an Nasa-i dalam al Kubra, 2/163

– Ibnu Majah, 1/547

Dishahihkan pula oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6327.

Dan dijadikan hujjah oleh:

– Ibnu al Mubarak

(lihat; Sunan at Tirmidzi, 3/132)

– Ahmad

(lihat; al Musnad, no. 23580. Syu’aib al Arnauth mengatakan dalam ta’liq nya; Hasan)

Ini adalah hadits Shahih dari jalur;

– Abu Ayyub

– Tsauban (al Baihaqi dalam ash-Syu’ab, 3/349)

– Syaddad bin Aus

– Abu Hurairah (Ibnu Asakir, 35/36)

Dan dikuatkan hadits Jabir, yakni;

 

 مَن صام رمَضانَ فأَتْبَعه سِتًّا مِن شوَّالٍ صام السَّنةَ كلَّها

“Siapa yang puasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam puasa Syawal, dia telah puasa setahun lamanya.”

(HR. Thabrani dalam al-Ausath, 5/50)

Hadits Jabir ini diriwayatkan pula;

Ahmad, Abd bin Humaid, Ibnu Zanjawaih, al Hakim, al Baihaqi. (Lihat; Jami’ al Ahadits, no. 22616)

Di dalam hadits-hadits sebelumnya menggunakan redaksi الدهر كله, sedangkan hadits Jabir di atas dengan lafadz السنة كلها.

  1. Bagaimana status perawi bernama Sa’ad bin Sa’id al Anshari?

Dia adalah saudara Yahya bin Sa’id al Anshari (tsiqoh).

Ibnu Sa’ad berkata; ‘Tsiqah sedikit haditsnya’ (ats Tsiqaat, 6/379)

Ibnu Adi berkata; ‘Haditsnya tidak mengapa’

Ibnu Main mendhaifkan, namun riwayat lain mengatakan, ‘Shalih.’

Ibnu Ammar; Tsiqah (Tahdzib at Tahdzib, 3/470)

Tirmidzi; para muhaddits memperbincangkan hafalannya. (Ibid)

Ibnu Hajar; Shaduq, namun buruk hafalannya.

Imam adz Dzahabi menyimpulkan dalam al Kasyif; ‘Shaduq.’

Minimal Sa’ad bin Sa’id al Anshari berderajat Shaduq, sehingga haditsnya minimal Hasan.

Seandainya itu hadits dhaif pun, derajatnya dapat terangkat menjadi Hasan li ghairihi.

Al Haitsami berkata, “Riwayat Thabrani, dan rijalnya adalah rijal shahih.” (Majma’ az Zawaaid, no. 5103)

  1. Pendapat Imam Malik?

Dalam madzhab Maliki, Imam Malik menjadikan kebiasaan Ahlul Madinah sebagai hujjah.

Namun, bukan berarti apa yang tidak mereka kerjakan, kemudian dihukumi bukan syariat atau sunnah.

Hingga Syaikh Abdul Karim bin Abdullah al Khudhair menanggapi bahwa;

Baik amal ahlul Madinah atau ahlu Makkah, apabila mereka tidak sesuai dengan hadits dan hadits itu shahih, hadits lah yang kita ikuti.

Terlebih, sunnahnya puasa Syawal adalah pendapat jumhur Ulama; Hanafiyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah.

Pada dasarnya, Imam Malik tidak mengatakan itu bid’ah.

Madzhab Maliki mengatakan bahwa puasa Syawal hukumnya makruh apabila;

  1. Yang mengerjakannya adalah seorang yang menjadi teladan, sehingga dikhawatirkan dianggap wajib.
  1. Dikerjakan bersambung dengan hari iedul fitri
  1. Dikerjakan 6 hari berturut-turut.
  1. Mengumumkan puasanya.

Apabila syarat-syarat di atas tidak ada, maka Malikiyah mengatakan hukumnya tidak makruh.

(Lihat: al Fiqh ‘ala al Madzahib al Arba’ah, 1/891)

  1. Dari mana muncul pendapat bid’ahnya puasa Syawal?

Kita mencoba bertanya;

Apakah pendapat ini muncul dari madzhab yang empat?

Apakah muncul dari seorang mujtahid mutlak atau setidaknya mujtahid muttabi’?

Muncul dari kalangan Salaf atau muta-akhirin?

Dalam khilaf fiqih, perlu kita perhatikan kaedah;

Berkata Ibnu Hajar Al Haitami :

َلَيْسَ كُلُّ خِلَافٍ جَاءَ مُعْتَبَرًا إلَّا خِلَافًا لَهُ حَظٌّ مِنْ النَّظَرِ”

Tidak setiap perbedaan pendapat bisa diterima, kecuali perbedaan pendapat yang mempunyai dasar pijakan (menurut disiplin keilmuan).”

(Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfah al-Muhtaj fi Syarhi al Minhaj, Juz III, hlm. 209)

Perkataan Ibnu Hajar Al-Haitami di atas dikuatkan juga dengan perkataan ulama besar, Imam Ar Romli :

إلَّا أَنْ يُقَالَ إنَّ هَذَا الْقَوْلَ شَاذٌّ , وَلَيْسَ كُلُّخِلَافٍ يُرَاعَى”

“Kecuali jika pendapat tersebut dikatakan nyeleneh,  dan tidak setiap perbedaan pendapat bisa diterima.”

Muhammad bin Shihabudin Ar Romli, Nihayah al Muhtaj ila Syarh al Minhaj, (Beirut, Dar al Fikr).

Sehingga, dapat disimpulkan secara fiqih bahwa pendapat bid’ahnya puasa Syawal tidak harus diterima.

  1. Kita tahu bahwa di dalam koridor fiqih tidak boleh menggunakan istilah Haq dan Batil, namun Rajih dan Marjuh.

Terlebih, dalam khilafiyah fiqih tidak boleh saling;

  1. Takfir (mengkafirkan)
  2. Tafsiq (memfasikkan)
  3. Tadhlil (menganggap sesat)
  4. Tabdi’ (membid’ahkan)

Apabila kita tidak setuju dengan pendapat fiqih seorang Fuqaha’, tidak lantas kita mengatakan itu bid’ah, apalagi itu adalah pendapat Jumhur.

Kesimpulan…

“Pendapat siapapun kalo itu bertentangan dgn hadits shohih minimal hasan maka hendaknya ditinggalkan.”

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat…

Oleh:

Lajnah Ilmiyyah DDC

 

—————-?====?————

?  -☄DDC☄ –

Donasi Dakwah Center

?Alamat: Jl. Kp Sawah No 39A Jati Melati Pondok Melati Bekasi

✅ www.donasidakwahcenter.com

✅Rekening: BSM 16600 173 81  an.Yayasan Al ISLAM

✅ www.twitter.com/Alislam_DDC

✅Fb/Fp: www.facebook.com/alislamb

✅ DDC Channel YouTube

?YUK BERGABUNG BERSAMA KAMI  !…

?☑KLIK Telegram_DDC http://goo.gl/jt4Y3a

?? Grup WA :

?0838 7984 9097

(Nama#alamat#no wa)

Flag Counter