Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Tanya Jawab

Hukum Adzan di Telinga Bayi dan Setelah Menguburkan Mayat

Pertanyaan:

Apa hukum Adzan dan iqamat di telinga bayi setelah kelahirannya? Dan apa hukum adzan dan iqamat bagi jenazah yang meninggal dunia, dengan alasan seseorang memulai kehidupan dengan adzan maka diakhiri pula dengan adzan?

Jawab:

Alhamdulillah wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah.

Jawaban Pertama;

Terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama tentang hukum adzan di telinga bayi, sebagian mereka mengatakan sunnah dan sebagian yang lain mengatakan tidak sunnah. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan pandang mereka akan shahih atau dhaifnya hadits dalam permasalahan ini. Adapun pendapat yang rajih menurut Syaikh Utsaimin dan Syaikh al-Munajjid adalah sunnah.

Adzan di telinga kanan hukumnya adalah sunah, sedangkan iqamah di telinga kiri tidak disunnahkan sebab haditsnya dhaif.

Dalil disunnahkannya adzan di telinga bayi adalah sebagai berikut;

عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ.

Dari Ubadillah bin Abi Rafi’, dari ayahnya, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam megumandangkan adzan seperti adzan shalat di telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fathimah.” (HR. Tirmidzi, no. 1514, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Adapun iqamah di telinga kiri bayi tidak ada dasarnya dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah, I/149. Yakni sebagai berikut,

مَنْ وُلِدَ لَهُ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

“Siapa yang memiliki anak yang baru lahir, maka hendaknya ia adzan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya.” (HR. Abu Ya’la dalam musnad-nya, no.6780 dengan sanad Maudhu’)

Hadits di atas memiliki sanad Maudhu’ (palsu), dan tidak memiliki syawahid (penguat) melainkan hadits-hadits maudhu’ ataupun dhaif.

Para ulama mengatakan bahwa adzan di telinga bayi ditujukan agar yang pertama kali yang ia dengar di muka bumi ini adalah kalimat tauhid. Selain itu, supaya bayi mendengar ucapan yang di dalamnya mengandung pengagungan terhadap Allah, pembesaran, penyucian, kesaksian akan keesaan Allah, dan kesaksian akan kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam. Selain itu juga, disebabkan karena adzan dapat mengusir setan. (al-Islam Sual wa Jawab, Syaikh al-Munajjid, VIII/8113)

Ulama lain berpendapat bahwa hal ini dilakukan agar bayi mendengar seruan shalat dan seruan untuk al-Falah (kemenangan) sebelum ia mendengar apapun. (Majmu’ Fatawa wa Rasa-il al-Utsaimin, XXV/237)

Jawaban Kedua;

Tidak diragukan lagi bahwa adzan dan iqamat untuk mayit setelah dikuburkan adalah bid’ah, yang Allah tidak menurunkan perintah untuk itu. Demikian pula, tidak pernah dinukil dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bahwa beliau pernah mengerjakan atau memerintahkannya.

Oleh karena itu, amalan seperti ini tidak boleh dikerjakan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu anha sebagai berikut;

« مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ».

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak.” (Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

Dalam riwayat lain;

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ».

“Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan (perintah) kami, maka dia tertolak.” (HR. Muslim, no.4590)

Dapat disimpulkan bahwa amalan seperti ini tidak disyariatkan, karena termasuk amalan-amalan bid’ah. (Fatwa Syaikh Bin Baz dalam Fatawa Islamiyah, II/93)

Hendaknya kaum muslimin berhati-hati dalam melakukan amalan hingga jelas dalilnya dari sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, sehingga tidak terjerumus pada amalan bid’ah yang justru diharamkan oleh Syariat Islam. Wallahu a’lam bish Shawab.

Semoga jawaban di atas dapat mewakili pertanyaan yang penanya ajukan. Wa Shallallohu ‘ala Nabiyyina Muhammad.

Dijawab oleh: Muizzudien Abu Turob

Flag Counter