Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Tanya Jawab

Hukum Bermain Rebana

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Afwan ana mau tanya, apa hukum bermain rebana? (Tri Dwi)

Jawaban:

Alhamdulillah, wash Sholatu was Salamu ‘ala Rasulillah.

Perlu diketahui bahwa secara syar’i hukum asal alat musik dengan berbagai ragamnya adalah haram. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ .

“Akan muncul dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, sutra, khamer, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari, no.5590)

Hadits di atas menunjukkan bahwa hukum alat-alat musik adalah haram, termasuk di dalamnya adalah rebana. Abdullah bin Abbas berkata, “Rebana, alat-alat musik, gendang, dan seruling haram.” (HR. Baihaqi, X/222)

Hanya saja terdapat beberapa hadits yang menunjukkan kebolehannya pada tiga kondisi, yaitu; ketika hari raya, pernikahan, dan menyambut orang yang datang dari berpergian, terkhusus para mujahidin.

Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut,

Ketika Hari Raya

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwa Abu Bakar Radhiyallahu anhu menemuinya dan ketika itu di samping Aisyah terdapat dua budak perempuan yang sedang memainkan rebana. Tatkala itu Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam berselimut dengan bajunya, kemudian Abu Bakar membentak kedua budak perempuan itu, lalu Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam menyingkap wajahnya seraya bersabda,

دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيدٍ وَتِلْكَ الأَيَّامُ أَيَّامُ مِنًى.

“Biarkanlah wahai Abu Bakar! Sesungguhnya hari ini adalah hari raya, hari ini adalah hari Mina.” (HR. Bukhari, no.944 & Muslim, no.892)

Waktu Pernikahan

Dari Khalid bin Dzakwan, Bari Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin Afra’ berkata,

جَاءَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَدَخَلَ حِينَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَاتٌ لَنَا يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ وَيَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ إِذْ قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ دَعِي هَذِهِ وَقُولِي بِالَّذِي كُنْتِ تَقُولِينَ.

“Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam datang ke pernikahanku, lalu beliau duduk di atas dipanku sebagaimana jarak dudukmu denganku. Ketika itu budak-budak perempuan kecil milik kami sedang memainkan rebana dan menyebut-nyebut kebaikan bapak-bapak kami yang syahid pada perang Badar. Tatkala itu salah seorang mereka berucap, ‘Di tengah-tengah kami terdapat Nabi yang bisa mengetahui kejadian hari esok.’ Nabi pun menegur, ‘Tinggalkan ucapanmu ini dan bacalah syair-syair sebelumnya’.” (HR. Bukhari, no.4852)

Menyambut Mujahidin

Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata;

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَعْضِ مَغَازِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ جَاءَتْ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ نَذَرْتُ إِنْ رَدَّكَ اللَّهُ سَالِمًا أَنْ أَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْكَ بِالدُّفِّ وَأَتَغَنَّى. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَاضْرِبِى وَإِلاَّ فَلاَ »

“Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam keluar dalam sebagian peperangan, tatkala beliau kembali, ada seorang budak wanita hitam yang menemui beliau seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jika Allah mengembalikanmu dalam keadaaan selamat, maka saya akan menabuh rebana di hadapanmu dan mendendangkan syair.’ Kemudian beliau menjawab, ‘Apabila kamu telah bernadzar maka lakukanlah, apabila tidak maka jangan’.” (HR. Tirmidzi, no.3690, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Hadits-hadits di atas menunjukkan boleh menabuh rebana hanya pada tiga kondisi tersebut, adapun selain itu maka hukumnya kembali pada asalnya yaitu haram. Hanya saja sebagian ulama memperluas cakupannya, sehingga boleh pula dilakukan ketika kelahiran bayi dan khitanan. Sebagian ulama yang lain juga memperbolehkan pada kondisi-kondisi bahagia seperti sembuhnya orang yang sakit dan sebagainya. (al-Musu’ah al-Fiqhiyyah, 38/168)

Realita yang terjadi di masyarakat Indonesia, banyak dari mereka yang menabuh rebana sambil bersholawat, berdoa, atau acara-acara pengajian. Hal ini tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, maka hendaknya kaum muslimin menjauhi perkara tersebut demi kehati-hatian agar tidak terjerembab pada hal-hal yang haram. Terlebih para ulama menganjurkan untuk tidak menabuh rebana kecuali pada tiga kondisi di atas. (al-Islam Su-al wa Jawab, Syaikh al-Munajjid, I/1718)

Perlu diketahui pula bahwa rebana yang diperbolehkan syar’i, hanya bersifat mengeluarkan suara-suara besar (bass). Sedangkan di Indonesia tersebar berbagai macam rebana, yang secara ringkas ada dua;

  1. Rebana yang hanya mengeluarkan suara-suara besar (Bass).
  2. Rebana yang juga berfungsi seperti genjring. Sebab di sisi-sisi rebana tersebut juga dicampur dengan alat tambahan seperti genjring. Yang akhirnya akan mengeluarkan suara-suara kecil, seperti; icik-icik, kencring-kencring, dll.

Untuk model yang ke-2 ini maka tidak diperbolehkan secara mutlak. Sebab alat tersebut tidak lagi disebut rebana tapi alat musik yang haram. Apabila rebana tidak diperlukan secara mendesak, maka hendaknya dijauhi. Sebab sikap hati-hati dalam masalah ini lebih diutamakan. Semoga keterangan di atas dapat mewakili jawaban yang penanya utarakan. Wallahu a’lam bish shawab.

Oleh: Muizzudien Abu Turob

Flag Counter