Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Tanya Jawab

Hukum Titip Salam?

Pertanyaan:

Bagaimana hukum menyampaikan salam dari orang lain atau titip salam? (Ika Wahyuni)

Jawab:

Alhamdulillah wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah.

Menyampaikan titipan salam dan menjawabnya termasuk amalan yang dianjurkan. Dan merupakan kebaikan ketika seorang muslim membiasakan adab yang baik ini.

Imam Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (11/41) : “Dan dianjurkan untuk membalas (salam) atas orang yang menyampaikan.”

Imam Ibnul Qoyyim berkata dalam Zaadul Ma’ad (2/427) : “Dan termasuk petunjuknya Shollallohu alaihi wa sallam, jika seseorang menyampaikan kepadanya salam dari orang lain, ia membalas kepadanya dan kepada orang yang menyampaikan.”

Bahkan Imam an-Nasa’i menulis bab tersendiri dalam kitabnya yang populer, As-Sunan Al-Kubro (10133) “Bab : apa yang dikatakan jika dikatakan kepadanya : Sesungguhnya si Fulan menyampaikan salam kepadamu”.

Amalan yang demikian itu pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari seseorang dari Bani Numair (dan dalam Fathul Bari (11/41) : dari Bani Tamim) dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa ia mendatangi Nabi Shollallohu alaihi wa sallam lalu ia berkata :

إِنَّ أَبِي يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمُ قَالَ : عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيكَ السَّلاَمُ

“Sesungguhnya ayahku menitipkan salam kepadamu.” Kemudian beliau menjawab, “Alaika wa ‘alaa abiikas salam (Atasmu dan atas ayahmu keselamatan).”

Hadits diatas diriwayatkan an-Nasa’i, no.10133. Dan di dalam sanad hadits ini ada jahaalah (rowi yang tidak dikenal), akan tetapi di sana ada Syahid (penguat) dalam Sunan Abu Dawud (5231), sehingga Syaikh Al-Albani menghasankannya.

Dan yang demikian telah ada dari perbuatan 2 istri Nabi Shollallohu alaihi wa sallam, Khodijah dan Aisyah rodhiyallahu anhuma, dan Nabi men-taqrir (menyetujui) mereka berdua :

1. Hadits Khodijah rodhiyallahu anha : dari Anas rodhiyallahu anhu ia berkata :

جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَعِنْدَهُ خَدِيجَةُ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ يُقْرِئُ خَدِيجَةَ السَّلاَمَ فَقَالَتْ : إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ ، وَعَلَى جِبْرِيلَ السَّلاَمُ ، وَعَلَيْكَ السَّلاَمُ ، وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Jibril datang kepada Nabi Shollallohu alaihi wa sallam dan ada Khodijah di sisi Nabi, Jibril berkata : “Allah menyampaikan salam untuk Khodijah.” Khodijah berkata, “Sesungguhnya Alloh-lah As-Salam, dan salam (keselamatan) atas Jibril dan atas engkau serta rahmat Allah dan barakah-Nya.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Hakim (4/175, an-Nasa’i dalam al-Kubro (10134), al-Bazzar (1903), dan Thabrani dalam al-Kabir (23/15 no. 25 dan 26).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (7/172) : “Dan dari hadits ini ada faidah membalas salam kepada orang yang mengirim salam dan kepada orang yang menyampaikan”.

2. Hadits Aisyah radhiyallohu anha, bahwa Nabi Shollallohu alaihi wa sallam berkata kepadanya;

يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ فَقَالَتْ ، وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لاَ أَرَى

“Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.” Aisyah menjawab, “Wa ‘alaihis salaam wa rohmatulloh wa barokaatuh, engkau (Nabi) melihat apa yang tidak aku lihat.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Bukhori (3217) dan Muslim (2447). Akan tetapi ada tambahan pada Musnad al-Imam Ahmad (6/117) dari Aisyah radhiyallohu anha, ia berkata, “aku menjawab, “Alaika wa ‘alaihis salaam wa rohmatulloh wa barokaatuh.”

Al-’Allamah Syaikh al-Albani berkata dalam catatan kaki Shohih Adabil Mufrod (hal. 308-309) : “Sanadnya shohih”. Dan ini adalah tambahan yang penting dalam hadits ini.

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa menyampaikan salam dan menjawabnya adalah hal yang disunnahkan. Adapun cara menjawabnya adalah dengan mengucapkan “Alaika wa ‘alaihis salam” untuk laki-laki atau “Alaiki wa ‘alaihas Salam” untuk perempuan. Boleh pula ditambahkan di akhirnya “Wa Rahmatullahi wa Barakatuh.”

Termasuk hal yang dianjurkan seorang muslim membiasakan salam atau menitipkan salam kepada saudara muslimnya.

Adapun menyampaikan titipan salam, itu termasuk amanah yang harus ditunaikan. Sehingga kita tidak boleh secara sengaja meninggalkan amanah tersebut. Minimal hukumnya makruh apabila tidak disampaikan.  Hal ini berdasarkan keumuman ayat berikut;

ياأيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Anfal: 27)

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. an-Nisa’: 58)

Apabila seseorang terhalang untuk menyampaikan salam, maka ia ma’dzur (mendapat udzur). Terkadang seseorang boleh tidak menyampaikan salam karena suatu hal, seperti; telah putus komunikasi dengan orang yang dituju, atau khawatir menimbulkan kemungkaran disebabkan salam tersebut dari lawan jenis, atau alasan-alasan lain yang dapat dibenarkan. Wallahu a’lam bish Shawwab.

Semoga jawaban di atas dapat mewakili pertanyaan yang penanya ajukan. Wa Shallallohu ‘ala Nabiyyina Muhammad.

Dijawab oleh: Muizzudien Abu Turob

Flag Counter