Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Artikel

KOMUNIKASI ALA NABI ﷺ Bag. 2 

Keunggulan Komunikasi Nabi  

Menurut Islam, komunikasi yang baik tidak hanya ditinjau dari satu aspek, melainkan secara menyeluruh. Dalam hal ini ada 4 keunggulan komunikasi ala Nabi .

  1. Tujuan atau Niat
  2. Kandungan maknanya
  3. Pilihan kata
  4. Efek ucapan

 

(1) Tujuan Atau Niat

Setiap kata yang terucap, pasti memiliki maksud. Bisa baik, bisa buruk. Bisa jadi ucapan yang lahiriahnya baik, di baliknya tersimpan bisa dan racun yang mematikan. Manisnya kata-kata haruslah disertai keluhuran batin. Apalah artinya kata-kata indah apabila ternyata mengandung dendam, benci dan kemunafikan. Hati yang bersih dan itikad yang baik adalah kunci utama komunikasi.

Niat dan tujuan, walaupun jauh tersembunyi dalam hati, berperan vital dalam segala urusan manusia. Kehendak yang baik tercermin dari tindak yang positif. Sebagaimana kehendak yang buruk terpancar pada tindak yang negatif.

Kesucian batin dan kebersihan hati menjadi salah satu alasan mengapa karya-karya para ulama dapat diterima oleh kaum muslimin pada setiap generasi.

Salah satu alasan mengapa Anda harus mempertimbangkan tujuan dan niat sebelum berkomunikasi adalah demi efesiensi berbagai potensi diri sendiri. Waktu, tenaga, fikiran, dan ruang adalah sebagian dari nikmat Allah yang wajib Anda jaga dan gunakan seefektif mungkin. Kerugian besar akibat banyak berbicara tanpa maksud yang jelas pasti Anda rasakan.

“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia menyia-nyiakannya ; kesehatan dan waktu luang.” ( Bukhari )

Singkat kata, dengan perencanaan yang matang sebelum melakukan komunikasi berarti Anda telah memegang kunci sukses dalam hidup ini. Sebagaiman petuah Nabi Muhammad kepada Muadz bin Jabal.

 

“Maukah engkau aku ajarkan kunci segala urusan?” Spontan Mu’adz menjawab, “Tentu saja.” Beliaupun memegang lisannya dan berpesan: “Hendaknya kamu menahan anggota tubuh yang satu ini.” ingin mengetahui lebih jauh, Muadz kembali bertanya : “Wahai Nabi Allah, haruskah kita bertanggung jawab atas setiap ucapan kita?” Mendengar pertanyaan ini, beliau menjawab: “Betapa meruginya ibumu hai Muadz. Adakah yang menyebabkan manusia tersungkur ke dalam Neraka selain tutur kata mereka sendiri?”( Tirmidzi )

Hadits ini berisi anjuran supaya Anda tidak mengucapkan sesuatu yang tidak berguna.  Umumnya orang banyak berbicara pasti banyak berbuat kesalahan, dan dari banyaknya kesalahan maka banyak pula dosanya. Ini membuktikan, lepas kontrol dalam berbicara mendatangkan kerugian yang tidak terperikan. Demikian penjelasan Al Mubarokfuri.

2.Kandungan Makna

Di antara poin penting yang patut diperhatikan ketika berkomunikasi adalah isi tutur kata Anda. Sebagai cerminan iman kepada Allah dan hari akhir, Anda harus menyadari bahwa setiap kata yang terucap pasti dimintai pertanggungjawaban atas kebenaran ucapan Anda, yang pertanggung jawaban itu bisa terjadi di dunia ataupun di akhirat.

Kesadaran akan adanya pertanggung jawaban atas setiap ucapan mendorong Anda untuk bersikap waspada dgn selektif dalam bertutur kata. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbeda dengan orang selainnya yang menduga ucapannya sekadar mengisi waktu luang. Anda meyakini bahwa setiap ucapan termasuk bagian dari amalan.

 

( ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ )

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf :18 )

Rasulullah maknanya, namun ia menjerumuskannya ke Neraka melebihi jarak timur dan barat.  (Bukhori & Muslim)

Mungkin selama ini Anda terbiasa menjadikan tutur kata sebagai pengisi waktu luang, penghangat suasana, atau pelepas rasa letih. Akibatnya, Anda kurang berhati-hati ketika berkomentar atau berbicara.

Pada perang Tabuk seorang munafik bertanya kepada Auf bin Malik :”Mengapa para penghafal Quran itu paling rakus dibandingkan yang lain, paling suka berdusta dan paling penakut ketika pertempuran berkecamuk?”

Spontan Auf menghardiknya, “Kamu telah berdusta, sejatinya kamu seorang munafik, sungguh akan kulaporkan ucapanmu tadi kepada Rasulullah.” Tanpa berfikir panjang Auf segera pergi dari situ dan menemui beliau, namun Al Quran terlebih dahulu turun menceritakan peristiwa tersebut.

Zaid bin Aslam mendengar penuturan Abdullah bin Umar: “Aku menyaksikan orang munafik itu bergelayutan pada tali pelana unta Rasulullah. Dia berusaha membela diri – Wahai Rasulullah, kami hanya mengisi waktu luang dengan bersenda gurau. – Namun respon beliau tidak lebih dari membacakan ayat ;

(… ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ )

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (At Taubah:65 )

Salah satu aspek penting yang harus Anda perhatikan ketika berkomunikasi adalah akurasi data terkait sesuatu yang hendak disampaikan. Kebenaran dan keakuratan ini tidak kalah penting dengan aspek komunikasi lainnya. Pengabaian aspek ini mengakibatkan komunikasi Anda tidak bermutu, dan akhirnya menjadi sampah pemikiran belaka.

Ucapan Anda yang tidak didukung keakuratan akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Menghilangkan kepercayaan masyarakat, mencoreng nama baik, serta mempersulit urusan pribadi. Sebagaimana ia juga menyulut kebencian, persengketaan bahkan peperangan.

Cukuplah sebagai kedustaan apabila kamu menyampaikan setiap yang kamu dengar. (HR. Muslim)

Islam melarang kita menyampaikan informasi yang belum jelas kebenarannya, maka bersikap atas dasar informasi itu tentu lebih layak untuk dilarang.

( ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻖٌ ﺑِﻨَﺒَﺈٍ ﻓَﺘَﺒَﻴَّﻨُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﺗُﺼِﻴﺒُﻮﺍ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺑِﺠَﻬَﺎﻟَﺔٍ ﻓَﺘُﺼْﺒِﺤُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﻧَﺎﺩِﻣِﻴﻦَ )

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [QS. Al-Hujurat: 6 ‏]

Menyaring informasi atau tabayun yang diajarkan agama Islam semakin dibutuhkan pada zaman sekarang. Zaman yang mengalami kemajuan yang pesat dalam bidang informatika.

Melihat kondisi saat ini, alasan berupa “hanya menyampaikan informasi” seperti yang kerap diutarakan media, tidaklah tepat. Seringkali pihak media beranggapan bahwa dengan menyebutkan sumber informasi yang disampaikan sudah cukup mencerdaskan segenap masyarakat atau dengannya mereka mengira telah terbebas dari tanggung jawab.

 

Alasan tersebut tentu tidak dapat dibenarkan, karena berbagai informasi yang disuguhkan media tetap saja rentan dalam menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat. Karena itu Nabi memvonis orang yang menyampaikan setiap informasi yang diketahuinya sebagai pendusta.

  1. Pilihan Kata

Hal penting lainnya yang tidak dapat disepelekan dalam komunikasi ialah kata-kata, yang menjadi media pengantar suatu pesan atau komunikasi. Tutur kata yang lembut lagi santun terbukti ampuh dalam memikat hati teman bicara atau lawan komunikasi Anda. Amarah yang berkobar-kobar padam dalam sekejap tatkala berhadapan dengan sikap yang santun dan tutur kata yang lembut.

Kasih sayang dapat berganti kebencian, kekerabatan berganti permusuhan, akibat tutur kata yang kasar dan menusuk perasaan.

( ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻌِﺒَﺎﺩِﻱ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﻳَﻨْﺰَﻍُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﻋَﺪُﻭًّﺍ ﻣُﺒِﻴﻨًﺎ )

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [Surat Al-Isra’ 53 ‏]

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, Allah memerintahkan setiap hamba dan Rasul-Nya untuk memerintahkan hamba-hamba Allah yang beriman agar berkomunikasi dan berdiskusi dengan tutur kata yang terbaik dan agar memilih kata-kata yang baik pula. Jika perintah ini tidak diindahkan, niscaya syaithon dengan mudah mengadu domba mereka. Akibatnya, yang bermula dari ucapan buruk menjadi tindakan kasar, dan darinya terjadilah pertikaian bahkan peperangan. Aku menemukan gambaran karakter Rasulullah dalam kitab-kitab suci terdahulu sebagai berikut. Beliau tidak suka bertutur kasar, tidak berhati kaku, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar. Beliau juga tidak suka membalas dendam, justru lebih suka memaafkan dan melupakan. (Tafsir Ibnu Katsir I/516)

Orang terbaik dari kalian semasa jahiliyyah adalah orang terbaik kalian setelah masuk Islam, apabila ia berilmu. (Al Bukkhori)

  1. Efek Ucapan

Lisan merupakan organ tubuh yang unik dan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Anda bisa mengutarakan isi hati melalui lisan. Dalam berkomunikasi sepatutnya kita mewaspadai dampak buruk ucapan yang keluar dari lisan.

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

 

“Muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.” (Bukhori & Muslim)

Rasulullah mendahulukan penyebutan lisan sebelum tangan, hal ini sarat dengan hikmah. Betapa besar peran dan sekaligus dampak dari lisan.

  1. Dampak gangguan lisan lebih besar dibandingkan dampak gangguan tangan atau tindakan.
  2. Gangguan lisan lebih mudah terjadi dibandingkan gangguan tangan.
  3. Pedihnya luka akibat gangguan lisan melebihi pedihnya luka akibat gangguan tangan.
  4. Gangguan lisan dapat menimpa orang masih hidup maupun orang yang telah mati. Sedangkan gangguan tangan hanya dapat menimpa orang yang masih hidup.
  5. Gangguan lisan dapat menimpa seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan antara penguasa dan rakyat jelata. Tidak seperti gangguan tangan yang terikat dengan strata sosial kemasyarakatan.

Seluruh manusia mengakui lisan sebagai anggota tubuh yang paling sulit dikendalikan, padahal dalam penjagaannya sama sekali tidak dibutuhkan modal finansial.

Tidak ada manusia yang kuasa menjaga lisan kecuali batinnya dipenuhi dua hal:

  1. Rasa takut kepada hukuman dan siksaan Allah.
  2. Rasa rindu kepada pahala-Nya.

Apabila keduanya telah memenuhi jiwa Anda, niscaya menjaga lisan menjadi pekerjaan ringan.

Ketahuilah ! Sungguh amal ibadah tidak bermanfaat jika tidak disadari dengan ilmu. Namun ilmu semata juga tidak berguna jika tidak disertai dengan pemahaman. Sedangkan pemahaman saja tidak berguna jika tidak disertai sikap wara’  (kehati-hatian). Dan tidak berguna aktivitas membaca tanpa disertai perenungan.  (Ali bin Abi Tholib – Al Faqih wal Mutafaqqih II/ 338-339).

 

 

 

 

Flag Counter