Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Artikel

MEMOHON KETEGUHAN DALAM SETIAP URUSAN (Bagian Ketiga)

right click and save

•••
Dari Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika manusia menyimpan emas dan perak, maka simpanlah doa-doa di bawah ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala perkara, dan kemauan kuat untuk berbuat sesuatu yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau mengetahuinya. Dan aku memohon ampunan-Mu atas (dosa-dosaku) yang Engkau mengetahuinya, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang ghaib’.”
(Hadits Hasan. HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Hibban. Lafadh dari Ahmad)

•••
3⃣ PELAJARAN KETIGA: Bersyukur terhadap Nikmat

وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ

“Aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah yang optimal kepada-Mu”

Bersyukur dan beribadah perlu pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, tidak bisa dilakukan sendiri. Ini sesuai dengan hadits Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ : لَا تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولُ : اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Muadz! Saya berwasiat kepadamu, Jangan sekali-kali engkau tinggalkan untuk membaca di setiap akhir shalat: ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu bisa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu’.” (Hadist Shahih. HR. Ahmad, Abu Daud dan an-Nasai)

4⃣ PELAJARAN KEEMPAT: Lisan yang Jujur dan Hati yang Bersih

وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا

“Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur”

Hati yang bersih akan menyebabkan seseorang untuk selalu berkata jujur, sebaliknya lisan yang jujur menunjukkan kebersihan hati seseorang.

Sedang lisan yang jujur akan menyebabkan seseorang masuk surga. Ini sesuai dengan hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaknya kalian berlaku jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan dan sesungguhnya ketakwaan kebajikan mengantarkan kepada surga. Dan seseorang yang senantiasa berlaku jujur, sampai dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiiqan (orang yang selalu berperilaku jujur). Dan hendaknya kalian menjauhi kedustaan. Sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan kepada neraka. Dan seseorang yang senantiasa berdusta, sampai dicatat di sisi Allah sebagai orang yang kadzdzaban (suka berdusta).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hati yang bersih adalah cita-cita setiap muslim, karena Allah tidak akan menerima harta dan anak seseorang, kecuali yang datang kepada-Nya dengan hati yang bersih sebagaimana di dalam firman-Nya,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Qs. asy-Syu’ara: 88-89)

Hati yang bersih pada ayat di atas diartikan bersih dari segala bentuk kotoran hati, seperti hasad, dengki, iri, dendam. Begitu juga bersih dari kesyirikan, karena syirik adalah kotoran hati yang paling besar.

Di sana terdapat istilah lain yang mirip dengan lafadh “Lisanan Shadiqan” yaitu lafadh “Lisana Shidqin”, tetapi maknanya agak berbeda walaupun merujuk kepada akar kata yang sama “kejujuran”.

Lafadh tersebut terdapat di dalam firman Allah, dan merupakan doa Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam,

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ (84) وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ (85)

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan.” (Qs. asy-Syu’ara’: 84-85)

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa arti “lisana shidqin fii al-akhirin” adalah nama harum yang disebut setelah kematiannya, dan menjadi teladan kebaikan bagi orang yang sesudahnya.

Al-Qurthubi di dalam tafsirnya meriwayatkan perkataan dari Imam Malik bahwa tidak apa-apa seseorang ingin dipuji sebagai orang yang shalih serta dimasukkan ke dalam golongan orang-orang shalih, jika hal itu diniatkan karena Allah. Karena sesungguhnya pujian kebaikan (setelah meninggalnya seseorang) merupakan kehidupan kedua. Di dalam sebuah pepatah dikatakan,

مات قوم وهم في الناس أحياء

“Suatu kaum memang sudah punah, tetapi sebenarnya mereka hidup di tengah-tengah manusia.”

Ini bisa terwujud karena mereka meninggalkan amalan-amalan shalih yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam ini mirip dengan doa memohon menjadi Imam bagi orang-orang bertaqwa sebagaimana di dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Qs. al-Furqan: 74)

(bersambung)

✒ DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

Flag Counter