Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Artikel

MEMOHON KETEGUHAN DALAM SETIAP URUSAN (Bagian Kedua)

•••
Dari Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika manusia menyimpan emas dan perak, maka simpanlah doa-doa di bawah ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala perkara, dan kemauan kuat untuk berbuat sesuatu yang benar, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan ibadah dengan baik kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau mengetahuinya. Dan aku memohon ampunan-Mu atas (dosa-dosaku) yang Engkau mengetahuinya, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang ghaib’.”
(Hadits Hasan. HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Hibban. Lafadh dari Ahmad)

•••
2⃣ PELAJARAN KEDUA: Kemauan Kuat

وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

“Aku memohon kepada-Mu kemauan kuat untuk berbuat sesuatu yang benar.”

Doa ini mirip dengan doa yang diucapkan oleh Ashabul Kahfi, ketika mereka masuk dalam gua untuk menyelamatkan aqidah mereka. Allah berfirman,

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan sediakan untuk kami petunjuk yang benar dalam segala urusan kami’.” (Qs. al-Kahfi: 10)

💡Lafadz (al-‘Azimah) artinya kemauan kuat dan tekad bulat untuk mengerjakan sesuatu. Allah berfirman,

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka jika engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.” (Qs. Ali Imran: 159)

💡Lafadz (ar-Rusydu) mempunyai tiga arti:

📌 Pertama; (ar-Rusydu) artinya baik, benar dan beres.

Sebagian orang mengetahui sesuatu yang baik dan benar, tetapi tidak mampu mengerjakannya. Oleh karenanya, kita meminta pertolongan Allah untuk bisa melaksanakan kebaikan tersebut. Hal ini mirip dengan firman Allah,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.” (Qs. al-Fatihah: 5)

📌 Kedua; (ar-Rusydu) juga berarti ketaatan kepada Allah dan Rasul.
Allah berfirman,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Qs. al-Hujurat: 7)

📌 Ketiga; (ar-Rusydu) berarti juga lawan dari sesat dan lengah.
Sebagaimana firman Allah,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. al-Baqarah: 256)

💡 Kemauan kuat terdapat dalam dua keadaan:

(1) Kemauan kuat untuk memulai pekerjaan dan amalan yang baru, sebagaimana orang kafir yang berkemauan kuat untuk masuk Islam dan mulai melaksanakan segala perintah Allah. Seperti juga orang yang bermaksiat yang ingin berhijrah dan meninggalkan maksiat dan memulai taubat.

(2) Kemauan kuat untuk terus melanjutkan pekerjaan yang sudah dilakukan. Seperti orang muallaf yang sudah masuk Islam dan mempunyai kemauan kuat untuk berada di dalam ajaran Islam serta mengamalkannya secara sungguh-sungguh hingga akhir hayatnya.

(bersambung)

✒ DR. Ahmad Zain An-Najah, MA.

Flag Counter