Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Tanya Jawab

Panduan Nabi Berkenaan Dengan Puasa Syawal

Pertanyaan:

Ustadz, kapan waktu utama puasa Syawal?

Jawaban:

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله المبغوث رحمة للعالمين

Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan salah satu ibadah yang disunnahkan dalam syariat Islam, bahkan puasa itu menjadi pelengkap yang mengikuti puasa Ramadhan dengan pahala seperti setahun penuh, yaitu setelah seseorang menunaikan puasa Ramadhan 29 hari atau 30 hari.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa Syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Kebanyakan ulama tidak memakruhkan puasa pada tanggal 2 Syawal yaitu sehari setelah Idul Fitri.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 385)

Komite Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi ketika ditanya apakah puasa Syawal harus dimulai langsung sehari setelah hari raya atau boleh beberapa hari setelahnya ? Mereka menjawab, “Tidak mesti harus lansung sehari setelah ‘Idul Fitri, boleh lansung sehari atau beberapa hari setelahnya, boleh dilakukan secara berurutan boleh juga tidak, sesuai dengan kemampuan masing-masing, karena dalam hal ini terdapat keleluasaan selama masih dalam bulan syawal. (Fatwa Lajnah Daimah, 10/393)

Meskipun demikian, tidak diragukan bahwa menyegerakan pelaksanaannya itu lebih utama berdasarkan keumuman dalil untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan dan dalil yang menganjurkan untuk tidak menunda amalan sholeh. Sebagaimana pendapat ini dipilih oleh Imam Nawawi di atas.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak boleh melaksanakan puasa Syawal sehari setelah ‘Idul Fitri langsung dengan alasan bahwa hari-hari itu adalah hari-hari makan dan minum, maka hal itu hanyalah ijtihad sebagian ulama bukan berarti haramnya puasa, dikarenakan hari-hari itu adalah hari-hari Silaturrahim. Sehingga secara adat kebiasaan alangkah baiknya mereka saling berbahagia ketika saling berkunjung untuk bertamu dan saling makan dan minum.

Dalam hal ini maka tetap dikembalikan kepada pribadi masing-masing dengan menimbang maslahat yang lebih besar, jika ia menyegerakan maka baginya pahala puasa Syawal, jika ia menundanya beberapa hari setelah ‘Idul Fitri lalu ia berpuasa Syawal maka baginya pahala puasa Syawal. Yang pasti, “Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi dihari esok.” Wallahu A’lam bis showab.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan ibadah puasa enam hari di bulan Syawal sehingga kita bisa meraih keutamaan puasa setahun. Amiin.

Bandung, 6 Syawal 1436 H

Oleh: Sabiq Muslim

Flag Counter