Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Artikel

PESAN NABI ﷺ BERKENAAN DENGAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJAH

PESAN NABI ﷺ BERKENAAN DENGAN 10 HARI PERTAMA BULAN DZULHIJAH

 

Bulan Dzulhijjah yang merupakan bulan ke -12 dalam kalender hijriyah Insya Allah tidak lama lagi akan kita jumpai.

Banyak pesan Nabi ﷺ berkenaan dengan keutamaan dan tuntunan amal dibulan yang mulia ini. Mari kita simak diantara pesan-pesan Nabi ﷺ berikut ini;

 

  1. Hari-Hari Yang Utama Untuk Memperbanyak Amal Shalih

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

 

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757).

Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dalam firman-Nya: (وَلَيَالٍ عَشْرٍ) “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: Sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab, serta menjadi pendapat mayoritas ulama.

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan lain sebagainya.

 

  1. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah, kecuali hari ke-10 (‘Idul Adha).

 

Tidak diragukan lagi bahwa puasa adalah salah satu amalan yang paling utama dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” [Hadits Muttafaq ‘Alaih].

 

Puasa Arafah, adalah puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اْلأنْصَارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya”. (HR. Muslim no. 1162, Tirmizdi no.749 dan Abu Daud no. 2425).

Yang lebih utama dari sepuluh pertama Dzulhijjah adalah puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Namun dianjurkan pula melakukan puasa sunnah sejak awal Dzulhijjah, yaitu 1 – 9 Dzulhijjah dalam rangka meraih pahala yang Allah lipat gandakan didalamnya. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut,

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)

 

Dalam riwayat lain dikatakan,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرةُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku...” (HR. Muslim no. 1151)

Puasa 9 hari atau 10 hari ?

Berpuasa di 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maksudnya adalah pada sembilan hari awal Dzulhijah (hari ke-1 sampai hari ke-9). Karena berpuasa dihari raya (10 Dzulhijjah) jelas diharamkan, sebagaimana Hadits Abu Sa’id Al Khudri,

نهى عن صوم يوم الفطر ويوم النحر

Rasulullah melarang puasa pada hari raya ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. (HR. Bukhari, no 1991 dan Muslim, no 1925)

Hal ini dikuatkan juga dengan hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi  mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْر.

Rasulullah biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), dan berpuasa tiga hari setiap bulannya (hijriyah), …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata,  “Berpuasa sembilan hari (dzulhijjah) ini bukan perkara yang dibenci, bahkan sangat disunnahkan, terlebih lagi pada tanggal sembilan (dzulhijjah), yang merupakan hari arafah, dan telah dijelaskan apa-apa yang berkaitan dengan keutamaan hari tersebut. Dan telah diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari, bahwasanya Rasulullah bersabda : “Tidak ada hari-hari yang lebih utama ketika seorang beramal shalih didalamnya dibandingkan dengan hari-hari ini.” Yaitu, sepuluh hari pertama dari bulan dzulhijjah.” (Syarh Shahih Muslim : 8/71, no 1176).

Asy Syaikh Abdul Azis bin Baz rahimahullah berkata, “Hadits Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Al Imam Al Bukhari telah menunjukkan tentang keutamaan beramal shalih pada sepuluh hari ini, dan berpuasa didalamnya termasuk dari amalan shalih yang disebutkan oleh beliau ‘Alaihi Shalatu wassalam. Maka jelas, berpuasa pada hari-hari ini merupakan perkara yang disunnahkan.” (Majmu’ Fatawa :15/418)

  1. Memperbanyak membaca Tahlil, Takbir dan Tahmid

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ
“…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …”. [al-Hajj: 28].

Para ahli tafsir menafsirkan ayat ini dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.

Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, sebagaimana hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

 

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد

“Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta’ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdulillah)”. (HR. Ahmad no. 5423).

Imam Bukhari rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Shahih Bukhari, 2/20).

Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabi’in bahwa pada hari-hari ini mereka mengucapkan;

اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada ilah yang berhak untuk disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha besar dan bagi Allah segala pujian.” (Lathoif Al Ma’arif, 1/272).
Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum ataupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.
Allah berfirman:

 

وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu”. (QS. Al-Baqarah: 185).

 

  1. Berqurban

‘Idul Adha dikenal pula dengan ”Idul Qurban”, momen saat kaum Muslimin melaksanakan ibadah qurban dengan menyembelih hewan sembelihan. Idul Adha atau ‘Idul Qurban mengandung banyak nilai, makna, dan semangat yang penting bagi kehidupan pribadi maupun sosial.

Berqurban adalah ibadah kepada Allah dengan menyembelih seekor kambing atau sepertujuh onta atau sapi pada hari Idul Adha dan tiga hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu’akkadah menurut jumhur ulama. Ibadah kurban bukan kewajiban sekali seumur hidup, tetapi sunnah yang dianjurkan setiap tahun jika dirinya mampu, bahkan Rasulullah ﷺ ketika di Madinah beliau selalu berkurban setiap tahunnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

 

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَال : ضحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Dari Anas Radhiallah ‘anhu berkata: “Nabi  berkurban dengan dua domba putih yang bertanduk beliau menyembelih dengan tangannya sendiri sambil mengucapkan takbir, beliau meletakkan kakinya dekat pangkal leher domba tersebut.” (Muttafaq Alaihi).

  1. Menunaikan Ibadah Haji

Amalan yang utama di bulan Dzulhijjah ini adalah haji. Terlebih haji mabrur yang bisa mengalahkan jihad. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif. Hal itu berdasarkan hadits dari ‘Aisyah -ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ : لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi .” (HR. Bukhari no. 1520)


Manakah yang lebih utama, 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan jawaban menarik atas pertanyaan ini, Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dan Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. (Majmu’ Fatawa, 25/287)

Lalu Imam Ibnu Qoyim menambahkan, “Jika orang yang bijak dan cerdik memahami jawaban syaikh Ibnu Taimiyah tersebut, maka jawaban beliau sudah cukup sempurna, karena tidak ada hari yang lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh pertama bulan Dzulhijah, didalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzuhijah). Sedangkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah ditinjau dari malamnya, karena didalamnya terdapat malam lailatul qodar yang Rasulullah sendiri menghidupkan malam-malam tersebut.” (Badai’ul Fawaid, 3/162)

 

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu memaksimalkan 10 hari pertama bulan Dzulhijah untuk meraih pahala besar di sisi-Nya. Aamiin

 

Oleh: Sabiq Muslim

Flag Counter