Bank Syariah Mandiri (BSM) 1660017381 an. Yayasan Al-Islam

Contact Center: 0856-8566-683

Artikel

Sedekah: Naungan Pada Hari Kiamat

ilustrasi-naunganOleh: Muizzudien Abu Turob

Setiap insan mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahagia, itulah kata yang tepat menggambarkan tujuan hidup manusia, hidup tanpa kebahagiaan bagai jasad tanpa ruh, untuk menggapai ruh tersebut, Abdullah bin Abbas memberikan sebuah rumus,

لَسَادَاتُ النَّاسِ : فِي الدُّنْيَا الْأَسْخِيَاءُ وَفِي الْآخِرَةِ الْأَتْقِيَاء

“Sungguh, pemuka manusia di dunia adalah para dermawan, dan pemuka di akhirat adalah orang-orang yang bertakwa.” (Adab ad-Dunya wa ad-Dien, I/226)

Rumus di atas singkat namun mengandung makna-makna agung dan hikmah yang besar. Kalimat tersebut keluar dari seorang ‘Turjumanul Qur’an’ yang penuh hikmah, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam pernah mendoakannya,

“Ya Allah, ajarilah anak ini (Abdullah bin Abbas) hikmah.”

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, sang khalifah keempat juga mengatakan senada dengan rumus di atas,

“Orang yang mulia di dunia adalah para dermawan, dan orang yang mulia di akhirat adalah orang-orang yang bertakwa.” (ar-Risalah al-Qusyairiyyah, hal.108)

Para dermawan akan hidup mulia dan bahagia, walau kehidupan mereka penuh dengan sedekah, mereka meyakini sedekah memiliki 1001 keutamaan, baik keutamaan di dunia maupun di akhirat. Dalam risalah ini, kami akan membahas keutamaan sedekah di akhirat, yakni sedekah kelak akan menaungi pelakunya di padang mahsyar.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad, IV/174, dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth)

Imam al-Munawi berkata, “Kelak sedekah akan berbentuk bagaikan gunung besar, kemudian ia akan bernaung di bawahnya.” (at-Tasiir, I/590)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ, وَذَكَرَ مِنْهُمْ: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.” Kemudian diantara yang beliau sebutkan, “Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kirinya.” (HR. Bukhari, no.660 & Muslim, no.2427)

Imam an-Nawawi berkata, “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi. Para Ulama berkata; ‘Untuk sedekah sunnah, lebih utama untuk merahasiakannya. Karena yang demikian itu lebih dekat kepada keikhlasan dan jauh dari riya’. Adapun sedekah wajib (zakat), lebih utama ditunaikan dengan terang-terangan. Begitu juga dengan shalat, mengerjakan shalat fardhu dengan terang-terangan lebih utama, sedangkan shalat sunnah lebih utama dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi’.” (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, III/481)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ ظِلَّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

“Sesungguhnya naungan seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (HR. Ahmad, IV/233, dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth)

Imam Ali al-Qari berkata, “Makna yang paling jelas adalah sedekah yang ia kerjakan ketika di dunia untuk berbuat baik kepada orang lain. Yang akan menjadi naungan untuknya adalah sedekahnya ataupun pahalanya. Sedekah yang ia berikan dengan hartanya adalah naungan hakiki seperti pakaian atau kemah sebagaimana terdapat dalam sebagian riwayat.” (Mir’at al-Mafatih, VI/715)

Sedekah akan melindungi orang-orang dermawan dari panas matahari pada hari kiamat. Termasuk sedekah dalam hal ini adalah meringankan orang yang berhutang atau menyedekahkan hutang tersebut kepadanya. Sebagaimana dalam hadits,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ غَرِيمِهِ أَوْ مَحَا عَنْهُ كَانَ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Siapa yang meringankan orang yang hutang kepadanya atau menghapusnya sama sekali, maka ia di bawah naungan Arsy pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, V/300, dishahihkan Syu’aib al-Arnauth)

Hadits di atas mengisyaratkan pahala besar bagi insan mukmin yang mau mengerjakannya. Barang kali hadits tersebut merupakan makna firman Allah Ta’ala dalam kitab-Nya,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 280)

Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika dunia mendatangimu, infakkanlah karena yang engkau infakkan tidak akan habis. Dan jika ia meninggalkanmu, maka sedekahkanlah ia, sebab dunia tidak akan kekal.”

Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar bersedekah. Amin.

Flag Counter